MAMA tampak lelah sekali…
MAMA tampak kepayahan sekali…
Tapi MAMA tetap memperhatikan kami…
MAMA justru tak memperdulikan dirinya…
Pagi itu kami akan berobat,
kugandeng MAMA keluar dari rumah,
kusiapkan selopnya di depan pintu,
MAMA tampak kesulitan memasukkan kakinya ke dalam selop…
MAMA bilang sudah…
Padahal kaki MAMA belum masuk ke dalam selop…
Belum MAMA,.. belum… lagi MAMA…lagi…”
Tapi MAMA tampak kesulitan sekali memakainya,
Aku jongkok, kupegang kaki mama,
kubantu memasukkan dalam selop…
Tetap susah…
Akhirnya, kupepetkan ujung selop di tembok,
Agar telapak kaki MAMA bisa terus masuk…
Dalam hati aku menangis…
Apakah ini sebuah firasat?
Karena hal yang sama kulakukan pada ibu mertuaku,
sehari sebelum beliau dipanggil SANG KHALIK… awal 2002
sebulan kemudian… MAMA pun menghadapNYA…
MAMA aku kangen …
This entry was posted on Saturday, March 8th, 2008 at 5:02 pm and is filed under ReLuNg JiwA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
November 28, 2008 at 10:55 pm |
kisah benar ye?.. sedih.. sememangnya Sitta juga anak yang sensitif.. peka dengan perubahan orang disayangi..