Berobat ke Luar Negeri

Banyak alasan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang memutuskan untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri.

Meskipun saat ini ilmu kedokteran di negeri kita ini sudah semakin maju, namun ada sebagian masyarakat yang merasa lebih mantap dan memilih pengobatan ataupun sekedar mencari second opinion atas hasil konsultasi medis yang telah dijalani sebelumnya ke negara lain.

Alasan itu pula yang melandasi diri saya ketika memutuskan berangkat berobat ke luar negeri.

Setelah mencoba mengumpulkan informasi selengkap mungkin tentang kemungkinan negara yang akan jadi pilihan, saya memutuskan memilih Singapura sebagai negara pilihan, dari beberapa alternatif antara lain Australia, Thailand, Malaysia dan Singapore.

Mengapa Singapura, karena saya merasa kemungkinan biaya masih terjangkau, dan dibandingkan dengan rencana tujuan awal, yaitu Australia, Singapura lebih dekat dan tanpa mengurus visa.

Yang pertama diperlukan sebagai bekal berobat ke luar negeri pada kondisi saya waktu itu adalah data medis selengkap mungkin yang sanggup saya kumpulkan. Antara lain adalah riwayat penyakit dilengkapi dengan beberapa data medis yaitu foto rontgen, USG, treadmill, hasil cek laboratorium lengkap untuk darah dan urine.

Karena saya pernah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit dan rawat inap, tentu saja saya juga memerlukan data rekam medis dari penanganan penyakit yang pernah saya derita dari rumah sakit tempat saya pernah dirawat inap. Informasi tersebut penting sekali, karena riwayat perjalananan sakit saya, tindakan pengobatan serta obat-obat yang digunakan dalam penanganan semua ada dalam rekam medis tersebut.

Namun ternyata, untuk melihat data rekam medis tersebut tidaklah mudah. Dengan berbagai alasan, diantaranya kekhawatiran penyalahgunaan data rekam medis oleh pihak yang tidak berhak, saya sangat kesulitan untuk sekedar mendapatkan surat keterangan medis (padahal surat keterangan medis berbeda dengan rekam medis, karena meskipun sudah cukup sulit, dalam surat keterangan medis, informasi yang saya dapatkan hanya kapan rawat inap, kapan keluar, keadaan waktu pulang dari rumah sakit baik, seperti surat keterangan kesehatan seperti untuk mencari pekerjaan) menurut saya itu sangat jauh dari harapan, karena namanya juga mencari second opinion, saya perlu data pendukung yang detil, yang lebih informatif, agar memudahkan penanganan lebih lanjut. Terakhir juga baru saya ketahui, bahwa ini sangat berbeda dengan rumah sakit di Singapura, karena kopi rekam medis diberikan pada pasien, sehingga pasien dapat berobat kemanapun, dimanapun dengan bekal rekam medis yang sangat informatif.

Selanjutnya, yang saya lakukan adalah mencari informasi mengenai rumah sakit yang ada di Singapura. Ada beberapa rumah sakit yang menjadi alternatif. Beberapa telah memiliki reputasi dunia, dan saya memilih rumah sakit Mount Elizabeth.

Saya memilih rumah sakit tersebut selain atas saran seorang teman yang pernah berobat di sana, juga atas informasi dari sebuah lembaga medical consultancy yang berada di Jakarta. Saya cukup menghubungi melalui telpon dan mengirim data medis yang saya miliki, saya akan dibantu untuk mendapatkan rujukan medik atau bedah dan pelayanan penunjang medik komprehensif yang diperlukan pasien sebelum berangkat dan selama keberadaannya di luar negeri. Setelah mengirimkan data medis kita ke dokter yang dianggap paling tepat dan terampil serta berpengalaman paling baik dalam menangani pasien sesuai dengan keluhan penyakitnya, maka kita akan segera mendapatkan jawaban berupa saran pemeriksaan yang perlu dilakukan, jika ada, pengobatan yang perlu, penanganan pembedahan bila perlu, jumlah hari perawatan rumah sakit, jumlah hari berobat jalan bila perlu. Juga akan disampaikan secara  detil perkiraan biaya sementara, yang pembayarannya dilakukan langsung pada rumah sakit atau pada spesialis terkait. Jadi kita tidak membayar pada lembaga medical consultancy, karena lembaga tersebut sudah bekerjasama dengan rumah sakit, kemungkinan biaya pelayanan medical consultancy akan dipotongkan dari biaya yang kita bayarkan pada rumah sakit. Pelayanan juga meliputi tiket perjalanan, pengurusan apartemen atau hotel sesuai dengan pilihan kita, serta jadwal konsultasi dengan dokter spesialis yang tepat. Apabila kita  menghendaki, kita juga akan mendapatkan fasilitas penjemputan di bandara udara, serta pengantaran ke apartemen/hotel pilihan, penjemputan saat akan berkonsultasi dengan dokter agar dapat berkonsultasi tepat waktu, bahkan pendamping yang dapat membantu berkomunikasi dengan dokter atau tenaga medis lainnya.

Setelah kita menyetujui segala ketentuan, utamanya mengenai biaya, kita akan mendapat informasi lengkap berupa jadwal penerbangan, akomodasi yang menginformasikan nama hotel/apartemen yang telah dipesankan, informasi harga permalam berikut fasilitas, nomor telpon lengkap dengan contact person yang dapat kita hubungi saat kedatangan kita. Juga medical appointment/ informasi jadwal kunjungan dokter, meliputi nama dokter, jenis spesialisasi, hari, tanggal dan jam kunjungan, serta alamat tempat kunjungan lengkap.

Berbekal informasi tersebut, saya mantap melakukan perjalanan ke Singapura untuk memperoleh pendapat dari yang lebih ahli. Perjalanan saya dari Yogyakarta hingga sampai di apartemen yang telah dipesankan oleh medical consultancy dari Jakarta yang saya hubungi tidak ada hambatan yang berarti. Bahkan saya merasa bersyukur karena apartemen yang saya tempati, dengan harga $S68 per malam, terletak di lantai 23 sebuah shopping mall Lucky  plaza di orchid road, yang merupakan jalan utama dan menjadi pusat bisnis. Dan yang paling penting, untuk menuju Mt. Elizabeth Medical Centre (MEMC), tempat perjanjian dengan medical oncologist yang akan saya temui hanya membutuhkan waktu 5 menit berjalan kaki.

Pagi harinya, sesuai dengan jadwal, saya menemui dokter sesuai perjanjian. MEMC yang saya kunjungi ternyata sangat megah selayaknya hotel berbintang tujuh. Di klinik Dr. Joanna Lin, nama medical oncologist yang saya kunjungi, saya disambut oleh dua orang resepsionis cantik yang juga merangkap sebagai perawat. Menariknya, kedua perawat tersebut berpakaian tidak selayaknya perawat lengkap dengan atributnya, namun mereka berpakaian layaknya akan jalan ke mall. Seorang berpakaian tank top, busana dengan satu tali di pundak dan yang satu lagi berpakaian back less, yang pundak, punggung  dan dada terbuka. Padahal ruang klinik dokter sangat dingin. Walau begitu, mereka sangat cekatan menangani pasien. Ketika datang, saya segera diukur berat dan tinggi badan, serta diambil sampel darah dan urine. Kedua perawat cantik tersebut dengan cekatan juga melakukan chemotherapy pada pasien warga negara India.

Setelah bertemu dengan dokter, saya disarankan untuk general ceck up. Walau tidak dalam satu gedung, laboratorium klinik untuk penanganan general check up juga cukup dekat. Saya tinggal menyeberang jalan, memasuki gedung yang sangat bersih, yang juga sebagai pusat perbelanjaan berkelas, Paragon.

Proses general ceck up juga tidak memakan waktu yang  lama. Semua profesional dan tidak berbelit. Semua dapat kami selesaikan hari itu juga, begitu pula dengan hasilnya. Sehingga hari itu juga saya dapat kembali menemui dokter Lin untuk mendapatkan saran lebih lanjut dengan membawa hasil foto rontgen, ct scan, serta hasil cek darah dan urin.

Setelah melihat data klinis saya dan membandingkan dengan data klinis yang saya bawa dari Indonesia, dokter tersebut menyarankan untuk menemui dokter ahli paru, untuk penanganan lebih lanjut. Setelah mendapatkan persetujuan saya, Dr. Lin segera menelpon dokter ahli paru yang juga memiliki klinik di MEMC, hanya berbeda lantai, untuk membuatkan janji agar kami bisa bertemu hari itu juga. Dengan rekomendasi dari dr. Lin, saya segera menemui dr.Theo sore itu juga.

Setelah melihat segala data medis, dokter menjelaskan tindakan awal yang harus segera dilakukan bila saya setuju, yaitu tindakan biopsi, mengambil sampel jaringan untuk mengetahui secara pasti jenis sel liar yang berkembang dalam sampel yang diambil, agar memastikan pengobatan dan penanganan seperti apa yang paling tepat.

Apabila saya setuju, penanganan dapat dilakukan dua hari kemudian, berikut biaya yang harus saya keluarkan untuk dokter, penanganan dan tindakan medis, dengan 3 (tiga) hari rawat inap (rumah sakit). Total biaya untuk semua tindakan tersebut adalah $S12.000. Karena saya anggap mahal, sayapun menawar harga yang disodorkan. Dan ternyata berhasil, biaya dapat diturunkan hingga menjadi $S8.000, dengan alasan bahwa yang dikurangi adalah biaya dokter. Rupanya di Singapura pun kita harus tawar menawar, tanpa harus merasa gengsi.

Hari itu juga saya telah menyelesaikan tahap awal pemeriksaan dengan perasaan puas. Puas karena tindakan profesionalisme dan pelayanan memuaskan yang telah saya terima yang tidak berbelit serta tidak menyulitkan. Hari itu, total biaya yang saya keluarkan untuk biaya general ceck up dan menemui 2 (dua) orang dokter ahli adalah $S723.

Memang, kesehatan sangat mahal harganya. Berapapun biayanya, biasanya orang rela mengeluarkan demi mendapatkan kesehatan. Namun seandainya kenyamanan, kemudahan, tepat waktu, pelayanan yang memuaskan dapat saya terima sama baiknya, sama memuaskannya dengan yang saya alami di Singapura, juga dilengkapi dengan berbagai peralatan tehnik yang paling canggih, menyajikan pelayanan yang terbaik dari para profesional medik berpengalaman yang semuanya berdedikasi tinggi, mungkin saya akan tetap memilih melakukannya di Indonesia. Selain itu, pertimbangan saya berobat ke Singapura adalah untuk mencari second opinion atau pendapat dari dokter yang lain, dengan harapan memperoleh alternatif dan hasil terbaik. 

Thanks to Lisa Medical Center Jakarta

Report  Agustus 2004    

3 Responses to “Berobat ke Luar Negeri”

  1. nora Says:

    KAlau ada yang suka berobat ke luar, aku boleh minta dibagi pengalamannya nggak?

  2. Sitta A. Sekar Says:

    Thanks Nora, udah mampir blog ku….

    ayo, siapa yang punya penglaman n bisa bantuin Nora…

    Kalo yang aku tau, tergantung penyakitnya juga lo..
    Banyak juga penderita kanker yang berobatnya ke Penang, Malaysia….
    Waktu aku jalan2 ke Penang, disana aku nginep di kos kos an yang biasa dipakai org Indonesia yg pada berobat…
    Biasanya yang berobat orang medan, pekan baru, dan sekitarnya…

    Rata-rata mereka memilih Penang karena kalo di itung2 lebih murah dibanding kalo mereka berangkat ke jakarta.

    Kalo berobat ke S’pore, kalo dananya memadai, rata2 pada ke Mt Elizabeth. artis2 Indonesia jg memilih RS ini.
    Apartement yang paling dekat dengan RS ini, yang harganya sangat terjangkau adalah Lucky Plaza, letaknya di Orchid Road. Sangat dekat dg Mt. Elizabeth, cuma 5 menit. Kemana2 jg dekat, krn dekat MRT station.

    Ada lagi yang memilih Cina. Konon disana ada rumah sakit yang pengobatanya sudah terkenal krn menggunakan herbal… * tunggu deh, kubahas di next posting.. *

    BTW, RS di Indonesia jg udh bgs lo…. sayangnya, penanganan pasien dr masuk sampai diagnosa cukup lama…. kadang jg kurang profesional….

    Ayo…. siapa lg yg mau menambahkan…

  3. Lianah Says:

    Mba Sitta,
    saya juga menderita kanker.Sekarang sudah jauh membaik.Payudara kanan saya sudah dioperasi 4 bulan lalu (18 September 2008). Saya melakukan metode pengobatan timur, obat-obatan herbal.Ada dua tumor,Tumor jinak saya membungkus tumor ganas. Berat tumor 2,5 kg, dan diameter 18 cm.
    Saya vegetarian, dan konsumsi juga yang namanya umbi/buah bit, dijus setiap pagi sebelum sarapan.
    O ya ini alamat dokter yang merawat saya:
    dr. Paulus W. Halim
    Jl. Suplir Sektor 1.5
    Blok F1 No. 13
    Bumi Serpong Damai
    Serpong, Telp (021)538 2114

    Semoga dapat menjadi alternatif.
    No hp Saya: 08159985721

    Thanks

Leave a Reply