LeLaKi BerMaTa TeDuH….

March 19, 2008

Aku tergolek….

Tubuhku menggigil, persendianku ngilu hingga ke tulang…

Lelaki ber mata teduh itu menghampiriku….

Memandangku dengan iba…

Mengusap rambutku…

Mengelus punggungku….

” Makan dulu ya? ” ucap lelaki itu…

Aku menggeleng…

” Kepingin makan apa? ” ucapnya lagi…

Aku kembali menggeleng…

” Makan pake mie y? kubikinin ya? panas panas, biar kemepyar…. Yuuk!!” sambil ditariknya tanganku supaya bangun.

Digandengnya menuju meja makan..

Lalu, lelaki itu sibuk memasak mie instan ala nya…

Ga lamaa….

” Udah jadi niih…. tapi masih panass…” kata lelaki itu

Aku melirik ke mangkok di meja makan

Mie instan yang dibuat lelaki itu berwarna pucat…

” Cobain ya? enak, panas panas… ” kata lelaki itu

dituangnya sebagian ke piringku…

Terpaksa aku mencicipinya sedikit… ya! cuma sediikiiit saja..

Rasa yang aneh!! hanya mie instan yang di rebus tanpa bumbu….

” Ga di kasi bumbu, mas?”

” Ngga,… takut michinnya… tadi cuma kukasih garam dikit… Kenapa? ga enak ya?”

” Enak kok… cuma, mulutku baru ga enak….”

( maafkan, aku agak bohong masss…)

Kuhargai pengorbananmu… kutau, apapun kau lakukan untukku… Lelaki bermata teduh….


SeLeSaI SuDaH…. ( ditulis ulang )

March 8, 2008

Selasa, 3 April 2007, telah menjadi akhir perjalanan hidup teman seperjuanganku, Mbak Teti…

Kanker leher rahim stadium IV yang dideritanya sudah tidak terkendali, dan merenggut nyawa sahabatku..

Allah SWT telah berkehendak.. rencananya tidak pernah dapat diduga-duga..

Mbak Teti, yang begitu gigih, begitu tegar, begitu bersemangat, telah menghadap Sang Khalik…

Mbak Teti yang cantik, yang segar, yang berseri telah tiada…

Masih teringat, ketika kami sama-sama duduk di antrian ruang tunggu instalasi radiologi rumah sakit Dr. Sardjito setahun yang lalu,…

” Nomer berapa mbak? ” tanyanya ramah.
” 32,..” begitu kataku…
” Oh… duluan saya.. saya nomer 18… ” begitu katanya..

Lalu kami sama-sama menunggu antrian yang panjang dan melelahkan itu…

Saat itu, mbak Teti sudah dinyatakan bersih dari kanker.
Semua paket kemo dan sinar yang harus dilaluinya telah selesai.
Ketika kami bertemu, beliau hanya kontrol…

” Naik apa mbak? ” tanyaku…
” Motor sendiri,… kemana-mana saya naik motor sendiri “… jawabnya.

Aaagh….. betapa takjubnya saya dengan semangat beliau..
Dengan penuh semangat pula beliau menyemangati saya..!!

Wajahnya yang cantik, bersih, dan anggun dengan jilbabnya,..

Aaaghh, tidak selayaknya aku mengeluh dengan keadaanku…
Aku tidak sendiri,.. ada dan banyak lagi yang juga menderita kanker…

Beberapa bulan kemudian, kudengar beliau membuka warung lesehan bebek goreng… Warungnya cukup ramai…
Memang, mbak Teti tidak pernah bisa diam… apapun dikerjakannya….

Namun, betapa terkejutnya ketika selasa siang itu, beliau telah tiada…
Kanker itu tumbuh kembali, dan menjalar hingga ke kaki…

Mbak Teti tak sanggup lagi menjalankan kehidupannya…
Selesai sudah langkah, asa dan harapannya…

Selamat jalan sahabat… selamat jalan teman seperjuangan…
Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni semua dosamu..
Semoga amal ibadahmu, mempermudah langkahmu menghadap Nya….

Mudah2 an Khusnul Chotimah,…
……Amiin….

* Tulisan ini sengaja ku tulis ulang, karena beberapa hari lalu, aku mengunjungi warung lesehanmu, mbak…. Sekarang suamimu yang melanjutkan warung yang dulu kamu rintis… kini nama warungmu adalah ” KAMPUNG PITU….


SuAtu HaRi di BuLaN AguStus 2003

March 8, 2008
MAMA tampak lelah sekali…
MAMA tampak kepayahan sekali…
Tapi MAMA tetap memperhatikan kami…
MAMA justru tak memperdulikan dirinya…
Pagi itu kami akan berobat,
kugandeng MAMA keluar dari rumah,
kusiapkan selopnya di depan pintu,
MAMA tampak kesulitan memasukkan kakinya ke dalam selop…
MAMA bilang sudah…
Padahal kaki MAMA belum masuk ke dalam selop…
Belum MAMA,.. belum… lagi MAMA…lagi…”
Tapi MAMA tampak kesulitan sekali memakainya,
Aku jongkok, kupegang kaki mama,
kubantu memasukkan dalam selop…
Tetap susah…
Akhirnya, kupepetkan ujung selop di tembok,
Agar telapak kaki MAMA bisa terus masuk…
Dalam hati aku menangis…
Apakah ini sebuah firasat?
Karena hal yang sama kulakukan pada ibu mertuaku,
sehari sebelum beliau dipanggil SANG KHALIK… awal 2002
sebulan kemudian… MAMA pun menghadapNYA…
MAMA aku kangen …

I Miss My MaMa…

March 8, 2008

UNTAIAN KASIH UNTUK MAMA

Betapa sulit…
Menemukan ungkapan untuk mewakili perasaan ini…
Betapa kami kehilanganmu, MAMA…
MAMA adalah mama terbaik buat kami…
Mama adalah istri yang setia, yang terbaik untuk papa
MAMA adalah mama…
yang selalu kami cintai, yang selalu kami sayangi,
yang selalu kami kasihi, yang selalu kami hormati….
MAMA adalah mama…
yang pintar memasak,
yang pintar mendongeng untuk kami sewaktu kami kecil,
yang pintar menebak isi hati kami,
yang selalu belajar, selalu lebih pintar dari kami…
MAMA… MAMA… MAMA…
Insya Allah.. kami akan selalu ingat pesan mama…
kami akan lanjutkan cita-cita mama…
kami akan selalu mendo’akan mama…
MAMA… MAMA… MAMA…
kami merindukan mama…
kami merindukan petuah mama…
kami merindukan segalanya dari mama…
Meski kini mama telah tiada….
Mama tetap disini…
di relung hati kami, di tiap do’a yang kami panjatkan,
di tiap langkah kami, mengenangmu, mengingatmu, merindukanmu…
Yaa ALLAH… Izinkan kami kelak berkumpul…
di TAMAN FIRDAUZ MU,… Amiin..

Titipan Allah..

February 29, 2008

dari kamarku, kulihat Asih, mbak yg mengasuh Daffa, anakku nampak sedang kesal…

Dipukulnya Daffa dengan tongkat dari plastik… Daffa teriak… lalu menangis…

Aku terkejut… bergegas kuhampiri anakku.. ia menangis kesakitan.. lengannya memar memerah…

kulihat, wajah Asih masih nampak kesal…

” Aduuh, sakiit Bundaa… ” Daffa mengaduh ketika kupegang lengannya yang luka memar..

” Padahal cuma pelan lho Bunda, aku mukulnya! Cuma gini thok! kata Asih sambil memperagakan pukulannya. Soalnya tadi Daffa mukul-mukul terus..” kata Asih membela diri. Ada ketakutan di wajahnya..

Melihat luka di lengan Daffa, dalam hati aku menangis. Sedih….

Tapi aku menyadari, Asih juga cuma manusia… mungkin baru lelah… mungkin baru kesal…

” Mbak, tolong ambilkan minyak tawon…Besok lagi jangan pukul2 an lagi ya! kataku sambil mengolesi luka Daffa.

ESOK PAGINYA

Kupanggil Asih…

” Mbak… tolong yang sabar yaa… maafkan kalo Daffa suka bikin kesal… Meskipun mukulnya pelan, lukanya lumayan menyakitkan… karena Allah mencatat kekesalanmu.. Ingat ya, Mbak.. dia yang kamu pukul itu titipan Allah… “

Asih mengangguk..